Pasar mobil penumpang Tiongkok telah mengalami perubahan dramatis, dengan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) anjlok sekitar 7 juta unit antara tahun 2020 dan 2025. Kontraksi ini bertepatan dengan ledakan pertumbuhan kendaraan listrik (EV), yang kini menyumbang 59% dari seluruh penjualan mobil baru pada bulan Desember 2025. Transisi ini mengubah permintaan otomotif, dan merek-merek terkenal beradaptasi – beberapa di antaranya lebih cepat dibandingkan yang lain.
Menurunnya Jumlah Kendaraan ICE
Selama enam tahun, penjualan kendaraan ICE turun dari 17,8 juta unit pada tahun 2020 menjadi 10,85 juta pada tahun 2025, turun sekitar 39%. Ini bukan sekedar penurunan; hal ini mencerminkan perubahan mendasar dalam preferensi konsumen yang didorong oleh insentif untuk kendaraan listrik, standar emisi yang lebih ketat, dan peningkatan teknologi kendaraan listrik. Tren ini menunjukkan bahwa Tiongkok serius dalam menghentikan penggunaan mobil bertenaga bahan bakar secara bertahap, dan laju perubahan ini kemungkinan besar akan semakin cepat.
Kinerja Merek: Pemenang dan Pecundang
Meski mengalami penurunan secara keseluruhan, beberapa merek tetap mendominasi penjualan ICE. Volkswagen, Toyota, dan Geely semuanya memegang posisi teratas dalam peringkat tahun 2025.
- Volkswagen Sagitar memimpin dengan 256.000 unit terjual.
- Volkswagen Lavida menyusul dengan 270.000 unit, meskipun terjadi penurunan sebesar 16,2% dari tahun ke tahun.
- Nissan Sylphy melengkapi posisi tiga teratas dengan 320.000 unit, juga mengalami penurunan sebesar 6,5%.
Namun, data menunjukkan penurunan jangka panjang yang signifikan pada model-model yang sebelumnya dominan. Penjualan Nissan Sylphy turun dari puncaknya sebanyak 538.000 unit pada tahun 2020, sementara Volkswagen Lavida turun dari hampir 500.000 unit pada tahun 2019.
Bangkitnya Merek Dalam Negeri
Produsen mobil Tiongkok memanfaatkan perubahan ini. Xingyue L dari Geely (240.000 unit, +11% YoY) dan Boyue (230.000 unit, +148% YoY) mengalami pertumbuhan substansial. Peningkatan Boyue yang mencapai hampir 150% patut mendapat perhatian khusus, hal ini menunjukkan meningkatnya daya saing merek dalam negeri di segmen ICE.
Apa Artinya
Penurunan jumlah kendaraan ICE di Tiongkok bukan hanya sekedar statistik penjualan; ini adalah perubahan struktural dalam industri otomotif global. Pasar Tiongkok mendorong permintaan kendaraan listrik di seluruh dunia, sehingga memaksa produsen untuk beradaptasi atau mengambil risiko menjadi tidak relevan. Meskipun perusahaan patungan yang sudah mapan seperti Volkswagen dan Nissan masih memegang pangsa pasar yang signifikan, kelangsungan jangka panjang mereka bergantung pada investasi kendaraan listrik yang agresif. Data tersebut menggarisbawahi bahwa masa depan penjualan otomotif di Tiongkok adalah listrik, dan merek yang gagal melakukan penyesuaian pasti akan kehilangan kekuatan.





















